Dan saya menulis untuk berbagi.. Untuk menjadi abadi, juga menunjukan eksistensi bahwa saya pernah ada di bumi ini..
Showing posts with label Just Narasi Basi. Show all posts
Showing posts with label Just Narasi Basi. Show all posts

Saturday, April 7, 2007

Ini Aku dan Sejuta Mimpiku

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang bagaimana menaklukan dunia. Mimpi yang sama tentang menggapai beribu bintang. Tentang seberapa dalam samudra yang bisa aku selami. Dan tentang seberapa ketinggian yang bisa kudaki.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang seberapa jauh pelosok-pelosok bumi yang bisa kucapai. Mimpi tentang jalan-jalan berliku yang akan mengarahkanku mewujudkannya jadi nyata.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi-mimpi tentang membentangkan semuanya dihadapanku. Mimpi tentang kesunyian. Kedamaian. Keabadian. Dan tentu saja, mimpi tentang kemurkaan dan amarah diri. Mimpi tentang angin yang akan membawaku terbang bersama daun-daun kering. Mimpi tentang hujan yang turun menghapus dahaga jiwa. Dan mimpi tentang kobaran api yang membakar hati. Mimpi-mimpi yang sama tentang keinginan untuk bertemu dengan Tuhan.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi-mimpi indah yang sirna seiring dengan munculnya tetesan embun. Mimpi tentang bagaimana aku bisa mengatakan kepadamu. Mimpi tentang bagaimana waktu bisa diputar kembali. Dan aku dilahirkan lagi. Tentu saja dengan label yang berbeda. Yang sama denganmu.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang keberanianku mempertanyakan Tuhan. Pemilik roh jiwa yang mengaliri tubuh ini. Penciptaku. Penciptamu. Dan jutaan yang lain.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang kepedihan hati. Kesendirian. Tapi bukan mimpi tentang penyesalan. Mimpi tentang dahan-dahan yang bercabang. Mimpi tentang bagaimana dahan-dahan itu berusaha mengapai awan.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang bagaimana aku bisa menceritakan kepadamu. Mimpi tentang ruang kosong jauh di dasar hatiku. Ruang kosong yang mulai terisi dengan kehadiran mimpi-mimpi tentangmu. Tentang raga dan jiwamu. Mimpi tentang segenggam kehangatan yang akan kembali terasa dingin ketika aku terbangun. Mimpi yang sama ketika aku pertama kali melihatmu.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang memeluk keabadian. Semu. Mimpi tentang keabadian yang tak pernah ada. Mimpi tentang kodrati manusia yang tidak abadi. Mimpi tentang bagaimana mengkotori jiwa. Lalu mensucikannya. Kemudian mengkotorinya lagi. Mimpi-mimpi yang sama berulang-ulang.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang bagaimana membekukan dunia. Dengan cara yang aku bisa. Tentu saja mimpi itu denganmu. Mimpi tentang belajar bagaimana membekukan dunia. Menghentikan detik waktu. Denganmu.

Saturday, February 17, 2007

Sampah Penting yang Ngga Penting

Siang ini, gw agak sedikit tergelitik baca satu kolom di kompas. Judulnya “Mengaku Megapolitan Berperilaku Ndesa”. Disitu penulisnya membagi 5 tingkatan pendosa penyebab banjir yang belakangan benar-benar meresahkan gw.. [bukannya sok ikut-ikut.. tapi memang daerah rumah gw sebenernya langganan banjir, even memang ngga pernah sampe masuk kedalam rumah, but still I little bit worried] peringkat paling bawah disitu ditulis masyarakat.

Siapa sebenarnya masyarakat? Gw kan? Lo kan? Kita semua kan.. kalo boleh sedikit gw quote, “sebagian besar masyarakat Jakarta.. bertingkah laku layaknya urban villagers. Sampah dibuang di sembarang tempat, terutama disungai-sungai. Meskipun memahami perilakunya berbuah bencana, kebiasaan sulit dihapus karena sudah mendarah daging.."

Gw sendiri menulis ini bukan tanpa tujuan [meskipun tujuan gw sebenarnya simple..] gw cuma mau “ngomong” sama teman-teman gw yang selama ini selalu meremehkan gw kalo gw selalu patuh buat ngga buang sampah sembarangan.. bahkan kadang gw selalu ngomel kalo liat teman-teman gw buang sampah seenak jidat. Well, at least yang mikir kayak gitu bukan gw seorang. “Lo bayangin aja, kalo gw asumsikan lo sendiri buang sampah setengah meter kubik sehari [after you pressed and pushed it and become a solid box].. ada berapa ratus juta lo-lo yang lain yang juga buang sampah sembarangan dalam jumlah yang sama.. berapa yang udah numpuk selama ini? Nah! Lo kaliin aja sendiri sejumlah hidup lo..”

Gw juga pernah punya pengalaman yang remeh banget.. tapi sempet bikin gw mikir, “kasian juga ya lo punya pikiran dangkal kayak gitu..”. Pada suatu hari yang cerah, dikampus gw tercinta.. waktu itu status gw masih mahasiswa bo, masih muda.. [penting yaa..] kalo ngga salah siy gw lagi mau bikin acara musik sama anak-anak BEM FTSP, nah.. waktu itu ada beberapa anak-anak 2004 yang ditugasin nempelin poster.. pake double tape. Ngga sengaja gw liat wanita-wanita muda 2004 calon arsitek itu buang sampah sisa double tapenya sembarangan. Protes [secara baik-baik] dong gw!! Awalnya siy mereka mungutin lagi sampahnya.. setelah gw tinggal beberapa detik [catet ya.. cuma dalam hitungan detik] mereka nempelin lagi.. dan buang sembarangan lagi. Ya gw protes [udah mulai ngga secara baik-baik] lagi dong.. and guess what? Mereka bilang.. “ya mbak.. ngga papa lah, toh nanti kan ada yang nyapuin juga, buat apa mereka dibayar dong?!” ANJJI%$#&@#GG!! Gw marah. Tapi seperti biasa, gw ngga pernah bisa marah [cuma ngedumel cempreng aja sesaat] dan gw bilang.. “kasian ya lo semua.. cantik, pinter.. calon arsitek.. tapi otak lo dangkal”. Buat wanita muda berpendidikan cukup tinggi yang katanya calon arsitek itu.. pantes ngga siy dia menganggap semua area yang bisa dia liat adalah tempat sampah? Berapa juta wanita muda berpendidikan cukup tinggi yang katanya calon arsitek lain ada di kampus gw? Wow.. luas banget tong sampah kampus gw ya..

Just put your self in other shoes.. bayangin seandainya tukang sapu itu adalah bapak lo sendiri! Lagian, apa susahnya tinggal pegang doang sebentar sampahnya.. cari tempat yang memang disediakan buat lo buang sampah, terus buang semua yang menurut lo ngga penting itu disana! Lo memang beruntung, gw beruntung.. kita beruntung.. dilahirkan dikeluarga yang bisa dibilang sampah kita aja ada yang buangin. Tapi bukan berarti kita bisa seenaknya mengesampingkan hidup orang lain. Tukang sampah sekalipun masih butuh penghargaan. Kalo lo punya kerjaan, ada orang lain yang berusaha sedikit meringankan kerjaan lo.. seneng kan? Nah, sekarang apa susahnya kita bikin seneng bapak-ibu para tukang sampah yang dengan setia [demi sesuap nasi] membersihkan sampah-sampah kita setiap hari itu? Imagine.. how mess our world without them. 
 
Masalah banjir, jangan sekarang lo protes sama pemerintah! Emang siy gw tau.. Sutiyoso udah makan miliaran uang haram yang seharusnya digunakan buat mensejahterakan kita itu.. [for that.. I hate him]. Tapi ingat, Sutiyoso juga manusia.. even dia lebih rendah dari seorang rocker kelas metromini [pliz.. jangan ciduk gw! Gw cuma mengeluarkan apa yang ada di hati]. Gubernur itu cuma 1 orang. Ngga akan bisa sukses tanpa kerjasama dari kita – masyarakat – yang jumlahnya.. ratusan juta. Well, how about you start from the men in the mirror? Yourself, darling!

Tuesday, January 16, 2007

Enjoying My Job

“Enjoy your Job?” kali ini pasti bakalan gw jawab, “SURE” dengan huruf besar dan cetak tebal. Meskipun kerjaan gw kali ini pastinya lebih berat dari kerjaan gw sebelumnya, jam kerja gw juga lebih panjang dari jam kerja gw sebelumnya, orang yang harus gw temuin.. juga lebih beragam dari orang yang harus gw temuin dikerjaan gw sebelumnya. Tapi kali ini, bos gw lebih asik dari bos gw yang sebelumnya. Jauh lebih asik. Dan yang pasti, gaji gw.. lebih gede dari gaji gw sebelumnya.
Hwakakakakakakakakakkakak !!
Senangnya kalau tiap hari harus bangun pagi tanpa hati yang terpaksa. Yaa.. karena sekarang tempat kerja gw lebih jauh dari tempat kerja sebelumnya, jadinya otomatis gw harus bangun 1 jam lebih pagi. Gw, yang biasanya selalu punya penyakit morning wakeup syndrome.. kali ini selalu bangun pagi dengan hati yang pastinya tanpa beban sama sekali.
Ternyata Tuhan masih sayang sama gw.. Tuhan masih menyisakan tempat dimana gw bisa diterima sebagaimana adanya. Kalau selama ini gw mengira Tuhan udah ngelupain gw.. ternyata gw SALAH BESAR!! Tuhan memberikan jalan yang terbaik buat gw melalui caranya sendiri.

Friday, September 29, 2006

Aku dan Bintang

Hari ini aku seperti merasa berada dalam kebimbangan yang sangat kronis. Aku merasa terjebak. Aku terhimpit. Sampai aku merasa seperti Tuhan sudah meninggalkan aku.
 
Benarkah? Aku hanya bertanya. Aku merasa.

Jarum jam begitu lambannya. Atau aku yang jalan di tempat? Tapi kalau boleh aku meminta. Lagi-lagi, kembalikan aku ke zaman 20 tahun lalu.

Dimana hanya ada aku.

Hanya ada orang-orang yang mengerti aku. 

Aku dan Tuhan
Aku dan bintang-bintang
Aku dan kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
 
Manusia punya mimpi. Aku manusia dan aku punya mimpi. Tapi mimpiku kali ini seperti menjebakku. Aku terperangkap. Entah dimana. Tapi sepertinya dulu memang pernah kuimpikan. Mungkin.


Ini salahku. Aku yang mempunyai keinginan. Aku yang memilih. Aku juga yang melangkah. Tapi kini aku mengutuk diriku sendiri. Aku ingin memutar jalanku. Aku kira aku bisa. Karna kendalinyapun aku yang pegang. Tapi entah. Mungkin belum waktunya.


Sampai kapan. Aku tidak tau. Mungkin sampai bosan. Atau aku kesepian.


29 September 2006

In my fuckin' office..

Tuesday, September 5, 2006

Aku.. Hari Ini!

Mungkin aku hanya merasa tidak nyaman. Saat ini. Tapi aku serasa ingin menghilang. Ingin sendiri. Aku ingin kembali pada zona amanku. Aku bosan mencari, dan aku sendiri tidak tau apa yang aku cari. Bukan jati diri. Mungkin lebih kepada tempat yang bisa menerima aku dan sejuta mimpiku apa adanya.
 
Aku merindu. Aku ingin menjadi diriku 20 tahun lalu. Nyaman. Tanpa beban. Mungkin sudah menjadi aku hanya saja belum dengan sejuta mimpiku.


Aku tersesat. Dan aku merasa jauh dari dunia yang aku ingin. Aku pikir ini adalah satu dari sejuta mimpi milikku, tapi ternyata ini hanya igauan biasa disiang hari. Aku tidak ingin tercebur lebih dalam, aku ingin menepi.


Aku lelah.. i'm 24 and i'm not feeling happy! Jangan kasihani diriku. Mungkin ini memang proses pendewasaan diri yang harus aku lalui. Mungkin seandainya Tuhan selalu kasih apa yang aku ingin, bisa jadi aku tidak pernah menghargai hidup yang sudah dititipkan Tuhan untuk aku yang sebenarnya indah ini jika aku mampu melihat lebih dalam.


PS : Maaf Tuhan, sudah mengira Tuhan melupakan aku.

Tuesday, August 15, 2006

Khayalan Kamar Mandi

Hari ini seperti hari-hari yang lain, bukan berarti aku membenci hari-hariku – tetapi mungkin aku memang tidak berada di waktu dan tempat yang tepat. Pagi ini dimulai dengan kegelisahan yang sebenarnya sudah bisa aku rasakan di malam-malam sebelumnya. Bukan lalu aku menjadi tidak produktif, tetapi justru menghasilkan beberapa tulisan pesimistik yang mungkin suatu saat akan membantuku mencapai tujuan akhirku. Entah kapan, dan dimana.

Ketidakjelasan yang akhir-akhir ini selalu menemani aku melangkahkan kaki menjadi semakin tidak jelas. Bukan secara nyata, karena aku tetap berada di bumi, tetap menjalankan hari-hariku dan tetap mendapatkan upahku setiap bulan – yang bukan dari hasil kerja kerasku karena aku tidak mengikutsertakan seluruh hati dan jiwaku. Mungkin lebih kearah ketidakpahaman akan hidup. Aku masih mencari-cari, masih mengais-ngais. Aku masih bermimpi. Dan mimpi-mimpiku itu tentang jalan-jalan yang sepertinya tidak pernah berujung.

Aku tidak pernah ingat kapan mulai terlintas diotakku, aku sering mengibaratkan diriku sendiri seperti seonggok kapas yang pernah tercebur kedalam air entah untuk berapa lama yang kemudian dijemur dipaparan sinar matahari jakarta. Kerontang. Tanpa nyawa. Kosong dan terombang-ambing tanpa tujuan yang tertulis.

Aku seperti merasa kehilangan sebagian dari jiwaku. Padahal bahkan akupun tidak pernah tau apakah aku pernah memilikinya atau tidak. Karena selama ini yang aku jalani bukan murni keinginan diri. Hanya mengarah pada satu tujuan, tanpa peduli aku suka atau tidak. Bukannya lalu aku menjadi sarkastik dan kemudian mempertanyakan eksistensi Tuhan didalam kehidupan yang menurutku lumayan nyata ini. Bukan demikian.

Mungkin memang apa yang aku jalani selama ini telah memiliki skenario tingkat tinggi. Walau aku harus terus memainkan semua peranku, tapi jujur – aku tidak pernah sekalipun diberikan kesempatan untuk mempelajari semua peran yang aku mainkan. Apalagi untuk memilih. Padahal kehidupan yang mahaluas ini terlalu indah untuk hanya dinikmati melalui satu peran yang sama dalam kurun waktu yang pastinya tidak bisa dibilang singkat.

Seandainya aku dilahirkan lagipun, aku tetap tidak tau ingin dilahirkan sebagai apa. Pernah terpikir ingin menjadi burung. Terbang lepas. Tinggi hampir menyentuh awan. Dan tentunya bebas menentukan pilihan. Tapi aku masih terlalu takut untuk menentukan semuanya sendiri. Bagaimana kalau aku ternyata terbang terlalu jauh, atau bahkan aku terbang terlalu tinggi. Lalu aku kemudian memilih untuk menjadi diriku lagi. Tentunya dengan beberapa tujuan yang dapat aku pilih sesuai keinginan diri. Seperti khayalanku pagi ini yang tidak mungkin terwujud untuk kembali ketempat tidur mengenakan selimut hangat dan bantal empuk setelah selesai melakukan ritual mandiku yang menurutku monoton setiap hari.