Jatuh cinta. Everyone knows, everyone have been there. Either I. Sakit, patah hati, kecewa.. adalah beberapa suku kata yang kadang menyertai ‘jatuh cinta’. Siapa yang berani terbang.. harus berani buat terjatuh. Semakin tinggi lo terbang, maka jatuhnya juga semakin sakit. I’d touch the sky. Now I fell.. I’m sick! But still needing. Need to be loved. And also.. to fall in love, again!
Kemarin, salah seorang teman gw tersayang.. sedikit curhat. She just met someone.. adorable, quite cute and nice of course. Tapi dia bilang.. the guy doesn’t seems like what she dreams about! Amat sangat jauh berbeda dari apa yang dia khayalkan tentang cowo’ impian dia selama ini. Ngga mirip sama satu orang cowo’ yang udah bikin dia kecewa, patah hati dan merasa kehilangan yang amat sangat. So what? Kata gw.. as long as he’s nice and respect you! Darling, berarti lo udah buka kacamata kuda yang selama ini lo selalu pake. Like what I did!
Dimata gw sekarang, cowo’ yang akan gw jatuhi cinta ngga harus jago maen gitar, ngga harus suka naik gunung [tapi mencintai pantai.. still, is a must! hahahahaha] ngga harus rock addict, ngga harus penikmat seni, ngga harus sketch master, ngga harus.. bla bla bla.
Gw cuma merasa perlu.. jatuh cinta! No matter what..
And so do you..
Ngga adil mencintai seseorang karena dia mirip seseorang yang lain. Just fall in love because of him.. not because he’s just like him. Got the picture?
Say Alhamdulillah.. karena lo masih bisa ngerasain [lagi] jatuh cinta!
Gw lagi berusaha.. [to find the right one] buat gw ‘jatuhi’!
Dan saya menulis untuk berbagi.. Untuk menjadi abadi, juga menunjukan eksistensi bahwa saya pernah ada di bumi ini..
Thursday, March 29, 2007
Sunday, March 25, 2007
Kadar Ke-Islaman Seseorang Dimata Tuhan dan Manusia
Pernah ngga berpikir terlalu jauh? Agama yang gw pegang ini sebenernya bener atau ngga siy? Atau.. jangan-jangan justru agama “yang lain” yang bener.. sebagai seorang muslim, bukan berarti gw ngga meyakini atau meragukan Tuhan dan agama gw sendiri. Tapi jujur, kadang sisi duniawi dan kodrati gw sebagai manusia muncul lebih kuat dibandingkan dengan sisi kerohanian gw. Justru karena gw terlalu meyakini Tuhan gw, dan menganggap Tuhan gw sempurna.. maka gw berpikir Tuhan gw ngga akan berbuat “se-tidak-adil” itu. Begini ceritanya..
Dari kecil gw udah dididik dengan pegangan agama yang kuat dari orang tua gw. Bahwa Tuhan itu satu.. Allah. Dengan status gw sebagai muslim yang meyakini dua kalimat syahadat maka gw wajib sholat 5 waktu, puasa, berzakat dan pergi berhaji suatu hari nanti. Gw juga dituntut untuk bisa baca Al-Qur’an. Intinya.. gw melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangannya, maka pahala adalah reward buat gw. Ketika gw berbuat sebaliknya, maka dosalah yang paling setimpal. Dengan mind set yang udah dibuat sedemikian hingga, dan doktrinan agama yang gw terima dari gw bukan apa-apa sampai pada detik ini.. membuat gw meyakini bahwa hanya “manusia-manusia dari kotak yang sama dengan gw” lah yang nantinya akan diterima disisi Tuhan dengan baik [meskipun harus melalui beberapa tahapan yang udah dibuat oleh Tuhan terlebih dulu], manusia-manusia yang pada masa hidupnya meyakini dua kalimat syahadat lahir dan batin. Setidaknya itu adalah pemikiran orang-orang yang “kebetulan” berada dijalan yang sama dengan gw [dan mungkin begitu juga pemikiran orang-orang yang bersebrangan dengan gw dan Tuhannya masing-masing].
Seiring dengan berjalannya waktu dan pertambahan umur gw.. juga mungkin rasa keingintahuan gw yang terlalu besar terhadap pencipta alam semesta ini yang membuat gw mempertanyakan satu hal. Gw menganggap agama gw yang paling benar, karena kebetulan gw memang dilahirkan dikeluarga gw yang menganut ajaran agama yang saat ini gw yakini.. bukan merupakan pilihan gw pribadi secara mutlak. Kasarnya, gw meyakini [dan terus menjalani] agama yang diturunkan dari orang tua gw kepada gw. Bukan merupakan hidayah atau apapun [atau memang gw udah mendapatkan hidayah dari masa gw masih merupakan sebuah “calon manusia”? Maka gw terlahir otomatis sebagai Islam?]. Kenyataannya ngga semua orang bisa merasakan mendapat hidayah untuk bisa melihat bahwa agama yang satu lebih benar dari agama yang lain. Dan kalau memang agama gw adalah agama yang paling benar, amat sangat beruntungnya gw tanpa bersusah payah mendapatkan “hidayah” gw sendiri.. atau bisa jadi sebaliknya, kalau ternyata memang agama lain yang paling benar.. maka gw adalah orang yang paling sial. Karena pada saat gw dilahirkan gw ngga memilih orang tua dan keluarga gw sendiri.
Terus? Sebenarnya pertanyaan gw adalah seputar surga dan neraka. Satu tujuan akhir manusia yang sampai saat ini masih menjadi pertimbangan untuk melakukan perbuatan di dunia yang katanya sementara namun nyata ini.
Mungkin pertanyaan gw akan lebih tepat diperuntukan buat manusia-manusia dari kotak yang sama dengan gw. Manusia dengan doktrinan sama tentang keyakinannya. Anggap diri lo adalah Tuhan yang akan membawa umatnya pergi menuju pada tujuan akhir dengan sebuah kapal besar, pada detik terakhir tersisa dua manusia dengan keyakinan dan kelakuan yang berbeda. Hitam dan putih. Api dan air. Baik dan buruk. Manusia pertama adalah seorang muslim yang semasa hidupnya pernah mengucapkan dua kalimat syahadat. Intinya dia adalah seorang Islam. Tapi pada kenyataannya [dan seiring berjalannya waktu] dia melakukan semua perbuatan yang “katanya” dilarang oleh agama.. misalnya minum alkohol, judi, zinah, atau bahkan merampok, membunuh.. memperkosa. Sedangkan manusia yang kedua adalah seorang non muslim yang semasa hidupnya mengabdikan diri pada kebenaran. Anggaplah dia adalah bunda Theresa. Kapal besar yang akan membawa kita semua itu hanya punya sisa satu tempat lagi. Pertanyaan gw [seandainya lo jadi Tuhan] siapa orang terakhir yang akan lo kasih kesempatan buat ikut di kapal itu?
Pertanyaan gw terlalu jauh ya?
Pada akhirnya gw berpikir, dengan kapasitas gw sebagai manusia.. dan jenis otak yang ngga bisa dibilang terlalu jenius, gw hanya bisa terus menjalani apa yang udah digariskan kepada gw. Gw cuma bisa “mengarang” cerita buat diri gw sendiri.. mungkin ngga ya sebenarnya tingkat “ke-Islaman” bagi manusia dan bagi Tuhan itu berbeda. Maksudnya begini.. gw Islam tapi belum tentu dimata Tuhan gw adalah seorang Islam. Karena gw ngga murni menjalani hari-hari gw dengan aturan kebaikan seorang muslim. Sedangkan bisa jadi.. lo yang bukan Islam, tapi selalu menjalani aturan kebaikan agama lo sendiri.. justru dimata Tuhan lo adalah seorang Islam, yang nantinya akan diterima disisi-Nya dengan baik.
Kalo gitu.. sebenernya semua agama adalah sama aja? Sama-sama memiliki satu Tuhan, sama-sama mengajarkan kebaikan, sama-sama memiliki tujuan akhir satu yaitu.. kedamaian yang abadi.
Lagi-lagi gw “mengarang” cerita buat diri gw sendiri.. sebenarnya agama [apapun] hanya merupakan sebuah pegangan.. sebuah jalur.. yang akan selalu mengarahkan kita. Ibaratnya sebuah peta yang memiliki satu tujuan yang sama. Peta yang gw pegang belum tentu sama dengan peta yang lo pegang. Keberadaan gw belum tentu sama dengan keberadaan lo.. tapi dengan mengikuti petunjuk dengan benar, pada akhirnya nanti kita akan berada disatu tempat tujuan yang sama. Meskipun jalur yang diambil berbeda, pedoman yang digunakan ngga sama, dan cara yang ditempuh pun berlainan..
Benar atau ngganya mungkin memang akan selalu menjadi misteri keberadaan Tuhan dan segala ciptaannya. Kita liat aja nanti!! Dalam kebimbangan gw sendiri.. gw tetap menjalani, meyakini, dan membuat apa yang udah gw pegang menjadi lebih sempurna lagi. Tentunya diluar konsep keingintahuan gw yang terlalu berlebih untuk mengetahui yang sebenar-benarnya..
25 Maret 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)